Dolan ke Pulau Gili (Ketapang) Probolinggo (Bag. 1)


Hai hai, sudah lama sekali gak nulis (di blog ini). Sejak mutasi (tanpa genetikašŸ˜€ ) alias pindah dari Bagian Humas dan Protokol di 2012 silam, entah kenapa males banget nulis di blog ini. Keseringan nulis di media lainnya sih (halah, alesan, padahal sukanya cmn nulis status facebook dan BBM aja, haha). Di Dinas Kominfo saat 2013 silam pun sama, males nulis. Berlanjut saat pindah ke DPPKA 2014 kemarin, mbuka wordpress aja kagak. Pas keterima beasiswa S2 STAR BPKP di Universitas Brawijaya 2015 kemarin, baru kepikiran ama blog ini, soalnya temen temen kampus ada yang aktif nulis juga di blog nya, lah saya malah nihil, hehe.

Halah, jadi bahas alesan. Gara2 kena tugas Ujian Akhir Semester salah satu mata kuliah di kampus, yang kudu nulis diary, akhirnya kepikiran nulis lagi di blog. Diary??? Cewek banget! Ah, gak juga, diary itu sering dipakai orang untuk menuliskan progress, catatan harian dll atas kesehariannya. Cuman kitanya aja yang sering menyamakan diary sebagai tempat curhatan cewek kalau lagi galau. Padahal yang enggak. Tuh, banyak kan yang namanya blog alias web log plus sekarang muncul video blog. Halah, ngelantur lagi kan? Kapan nulis tentang GILI KETAPANG nya?

OK, ok. Cerita tentang GILI KETAPANG bermulai pada saat tadi pagi, Minggu, 17 Januari 2016 saat saya ngajak anak dan istri jalan2 ke Pelabuhan. Kita berempat naik sepeda motor Honda Varionya istriku. Maunya sih cuman biar si Yusuf Akbar, anakku yang paling kecil untuk berendam di air laut di pelabuhan, karena kakinya agak gatal2, plus nyenengenin kakaknya, Riva yang pengen jalan2. Ndilalah kadang sesuatu yang gak direncanakan malah kejadian.

Saat masuk ke Pelabuhan Pelelangan Ikan (PPI) di timur Pelabuhan Tanjung Tembaga (di Kota Probolinggo memang punya 2 pelabuhan. Satu pelabuhan lama, pelabuhan Tanjung Tembaga yang sekarang dibangun megah dan katanya sebagai alternatif dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya (saya sih cuman katanya), dan satu lagi Pelabuhan Pelelangan Ikan (PPI) di sebelah timurnya, yang berada di bawah Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur), istri tiba2 membicarakan obyek wisata BJBR yang pintu masuknya ada di area pintu masuk PPI. Dia bilang kalo sekarang BJBR bagus tapi tiket masuknya tambah mahal. Dengan iseng saya bilang ke istri gimana kalo dolannya ke sana saja, toh kita berempat baru sekali masuk BJBR, itupun sudah setahun yang lalu, belum dipugar ketiga kalinya seperti sekarang. Eh, istri malah nolak. Dia bilang mending ke pulau GILI KETAPANG sekalian. Itung2 jalan2.Awalnya saya nolak, karena gak tahu bagaimana cara ke sana. Tahunya cuman naik dari Pelabuhan Tanjung Tembaga aja, cuman tiket dll nya gak tahu. Belum lagi kita tadi itu gak ada persiapan sama sekali. Belum lagi kepikiran bagaimana parkir sepeda motor? Aman gak? Tapi kata istri dicoba dulu, karena dia juga baru sekali ke pulau GILI, itupun sudah tahunan yang lalu, saat dia masuh bujang, hehe. Akhirnya, kupikir, gak ada salahnya dicoba. Liat2 dulu deh pikirku.

Akhirnya, kita balik kanan, keluar dari areal PPI dan menuju ke Pelabuhan Tanjung Tembaga. Dari pintu masuk, kita ke bagian timur Pelabuhan Tanjung Tembaga, di areal deket lokasi salah satu perusahaan terbesar di Kota Probolinggo, PT. KTI (Kutai Timber Indonesia). Sebelum sampai di ujung, sepeda saya berhentikan di sebuah warung kecil di area sana, sambil tanya2 tentang penyeberangan ke pulau GILI. Dengan bahasa Indonesia dengan dialeg Madura Pendalungan yang kental, ibu pemilik warung tersebut bilang bahwa penyeberangan ke pulau GILI ada di sebelah barat pelabuhan, dan tampak jelas ditunjukkan oleh beliau di sisi barat pelabuhan. Kelihatan dari sana, beberapa perahu berukuran sedang yang tengah menunggu penumpang di sana. Banyak penumpang yang duduk di bagian atas kapal tersebut, rupanya kata ibu tadi, merupakan penumpang yang akan berangkat ke pulau GILI. Dan tampak deretan sepeda motor yang terparkir di sisi baratnya, dan juga puluhan mobil di sana. Spontan saya tanya lagi, apakah itu tempat parkir bagi pengunjung yang ke pulau GILI. Beliau menjawab iya. Mungkin pikirnya, orang ini kok gak tahu sama sekali ya tentang pulau GILI, hehe.

Akhirnya, kami berempat kesana. Lokasi pelabuhan penyeberangan ke Pulau GILI agak tersembunyi dari jalan utama. Di sebelah barat jalan utama di bagian barat Pelabuhan Tanjung Tembaga ini, ternyata sudah berdiri pagar tinggi yang di dalamnya sudah dibangun infrastruktur pendukung realisasiĀ  Pelabuhan Tanjung Tembaga ini, dengan jalan yang sangat mulus di seberang sana, dan sepintas, jika gak salah, ada portal seperti portal di Jalan Tol. Pikirku mungkin ini ada hubungannya dengan penyiapan infrastruktur pelabuhan Tanjung Tembaga sebagai alternatif Tanjung Perak, plus memang sudah dibangun Terminal Kargo tepat di selatan Pelabuhan Tanjung Tembaga.

Balik ke jalan menuju pelabuhan penyeberangan, ada tulisan kecil saja, yang menunjukkan dimana pelabuhan penyeberangan itu ada. Sempat tersenyum kecut, kok kecil banget ya, tulisan tangan lagi. Sayang gak bisa kufoto, lah lagi pegang kemudi di sepeda motor. Ya gak bisa lah ambil hp untuk moto. Kuikuti jalannya, dan akhirnya tampaklah deretan perahu berukuran sedang dan beberapa penumpang tampak sudah menaiki bagian atas kapal tersebut. Kulihat ada 2 kapal yang sedang melayani penyeberangan, dan 3 kapal lainnyya masih kosong, mungkin nunggu giliran. Dan mungkin karena tahu maksud aku yang tolah toleh kebingungan, bapak tukang parkir itu mendekati aku.

“Mau ke GILI, mas?”, tanyanya. Dengan antusias kujawab iya.

“Parkirnya di sana ya pak?”, tanyaku sambil mengarahkan pandanganku ke deretan sepeda motor yang berjejer sedikit rapi di tempat parkir semi permanen yang kulihat. Kenapa kubilang ‘sedikit’ rapi? Karena memang tatanannya sudah lumayan berjejer, tapi ruang untuk keluar masuk sepeda gak ada, jadi bila ada sepeda motor yang di deretan dalam mau dikeluarkan, alhasil, harus ngeluarkan dahulu sepeda di deretan agak luar dan di luar. RIBET! Hehehe.

Nah, kebetulan pas itu ada sepeda motor yang mau dikeluarkan, ribet juga. Bapak tukang parkir tadi dan asistennya tampak menggeret2 sepeda motor di sisi luar parkiran yang sialnya dikunci setir. Cukup kasihan juga. Kutawarin mau kubantu, mereka menolaknya.

“Gak usah, mas. Sampean masukkan sepedanya sampean aja nanti ke dalam,” jawabnya sambil sedikit terengah.

Istri dan anak2ku kusuruh turun dari sepeda, dan ngiyup alias berteduh dari terik mentari yang cukup panas saat itu. Padahal jam masih menunjukkan jam 8 pagi. Istriku lalu bilang padaku kalau dia akan beli minuman segar dan snack untuk anak2ku di warung yang bersebelahan dengan tempat parkir tadi, karena memang gak bawa bekal sama sekali.

Setelah menunggu hampir 5 menit, akhirnya sepeda motor kumasukkan, eh, disuruh masuk ke bagian yang terdalam. Wah, bakalan ruwet nanti kalau keluar, pikirku. Tapi gak papalah, opo jare engkok alias apa kata nanti, yang penting ke GILI dulu, hehe.

Sempat minta karcis parkir, eh, kata pak petugas parkir tadi gak ada, tapi mewanti2 aku untuk mengunci saja. Hmmm, perlindungannya kurang nih, pikirku. Gimana kalo ada sepeda motor yang hilang? Ah, daripada pikiranku malah nyebabkan aku malah gak jadi ke GILI, aku putuskan meneruskan dolan dadakan ini, dan nyamperin istri dan anak2ku yang menunggu dibuatin es di warung tadi.

Singkat cerita setelah dapat es dan snack, aku dan keluarga kecilku menuju ke kapal, dan tak lupa tanya harga tiketnya. Si anak buah kapal yang menungguku dan keluargaku untuk naik (karena jembatan ke kapal cuman sebatang kayu kecil!) bilang tiketnya Rp 7ribu saja. Wah, murah banget pikirku. Akhirnya, anakku yang besar, Riva pertama kali naik ke kapal, sangat berhati2 tentunya, dengan sedikit kuatir, karena memang harus turun dari ujung yang curam, menuju ke kapal dengan sebatang kayu yang kecil buat nyebrang ke kapal).

IMG_20160117_082415a.jpg

Akhirnya, kita berempat berhasil masuk kapal dengan tidak kurang suatu apa, hehe. Walaupun agak kuatir tadi, akhirnya kita bisa duduk. Tempatnya sempit dan memang kita wajib duduk dan berimpitan dengan penumpang lainnya. Sebagian besar penumpang adalah warga GILI Ketapang yang mungkin teman2 jika kesana akan ketahui dari bahasa Madura Pendalungan yang biasa digunakan. Tapi banyak juga anak2 muda yang sekdar pengen berlibur untuk mancing, foto2 ataupun sekedar pengen tahu GILI Ketapang.

IMG_20160117_083139a.jpg

Sempat berkenalan dengan beberapa penumpang, yang ternyata sangat2 ramah, baik itu yang warga pulau GILI, maupun beberapa pelancong seperti aku sekeluarga. Beda pelancong dan warga GILI pasti keliatan kok, misalnya dari pakaiannya, bahasanya, dan tingkah lakunya di kapal. Kalo diliat dari pakainnya, pelancong pasti pake pakaian yang agak2 keren gitu, kan liburan , hehe. Klo warga pulau GILI pasti pake pakaian biasa saja sehari hari, walaupun juga ada beberapa warga sana yang pakai pakaian gaul (karena mmng masih muda), hehe. Jika diliat dari bahasanya, maka pelancong biasanya pakai bahasa Indonesia, atau setidaknya bahasa Jawa. Jika warga sana, hampir pasti pakai bahasa Madura Pendalungan. Ini pun gak mutlak demikian, tapi kebanyakan demikian (hasil dari pengamatan dan tanya2 juga) hehe. Dan jika dilihat dari perilakunya, kalo pelancong pasti sibuk dengan gadget dan barang2 bawaannya, entah itu kamera poket atau juga kamera DSLR, alat pancing dll. Kalo warga sana mah, biasa aja kalee. Woles gitu, sambil ngeliatin tingkah pelancong yang sibuk selfie2. Naah, kayak keluargaku, sibuk selfie juga, Hahaha.

Akhirnya, setelah menunggu 15 menit sejak aku dan keluarga kecilku duduk di kapal, akhirnya kapal ini bergerak juga, berangkat ke Pulau GILI! Lah, kok lama? Ya iyalah, karena awak kapal menunggu hingga penumpang penuh dahulu (biasanya), baru berangkat. Lama perjalanan? Kira2 setengah jam lah. terus, apa saja yang ada di pulau GILI? Gimana pelabuhan di sana? bagus gak? Itu cerita untuk bagian kedua nanti, hehehe.

OK, deh, besok kulanjut deh, sekarang saatnya ngerjakan UAS! Lah, kok masih ngerjakan UAS? Ahhhh, besok deh, besok :D….