Perubahan Diri (sebuah tugas UAS Etika Profesi dan Spiritualitas)


Perubahan pada tingkat pikiran/akal

Pragmatis, realistis, objektif dan dan berorientasi pada hasil. Itulah gambaran pada diri saya sendiri sebelum saya mendapatkan kesempatan emas untuk melanjutkan studi saya pada jenjang Magister di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya. Pemahaman yang di kemudian hari saya pahami sebagai “berpikir positif” itu merupakan bekal dan “senjata” saya dalam keseharian, baik dalam lingkungan kedinasan maupun non-kedinasan. Dan saya sangat mempercayai bahwa dengan pemikiran seperti itu, banyak hal positif yang akan tercapai, sehingga kemudian saya sangat percaya hanya dengan ketekunan, kerja keras, kedisiplinan dan tekad yang bulat, semua masalah dan halangan bisa teratasi. Berpikir positif dan “kerja, kerja dan kerja” adalah moto sehari-hari yang membuat saya sangat ter-obsesi dengan kerja keras dan kerja cerdas.

Dan betapa ‘shock’ nya saya ketika memulai Semester 1 di kampus biru emas ini, saat beberapa dosen dengan tajuk “Multiparadigma” mengenalkan hal yang betul-betul di luar apa yang saya bayangkan selama ini. Dari lima mata kuliah yang saya tempuh, tiga mata kuliah, yaitu Akuntansi Multiparadigma, Etika Profesi & Spiritualitas dan Metodologi Penelitian Multiparadigma yang benar-benar ‘memporak-porandakan’ apa yang percayai seperti yang saya sebutkan di atas. Bahwa ada pemikiran di luar positivisme, di luar akal sehat saya sebagai manusia yang juga sangat memengaruhi manusia (dan tentu saja saya sendiri). Realis dan obyektif tak lagi cukup, hasil ternyata bukan segalanya dan pragmatis yang kaku itu apa lagi, tak mampu menjelaskan, membimbing dan mengarahkan ke mana harus melangkah bila saya ketemu hal-hal lain yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah.

Ilmiah? Ya, ilmiah yang saya percayai selama ini ternyata hanyalah bagian dari ilmiah yang sejati, yang sesungguhnya. Keilmiahan yang dibentuk dari pemikiran-pemikiran logis dan masuk akal, hanyalah sebagian dari keilmiahan sejati, yang memandang sesuatu dari suatu sudut. Dalam tajuk multiparadigma, saya diajak dan diajarkan bagaimana melihat keilmiahan dari sudut lainnya. Bagiamana sesuatu kebenaran ilmiah, ternyata hanyalah bagian dari kebenaran ilmiah yang lebih besar, bila dipandang dari suatu sudut pandang yang lebih luas. Bisa jadi juga pemahaman dan pandangan keilmiahan inilah yang akhirnya mengkotak-kotak pemikiran dan akal manusia (saya sendiri utamanya) untuk mempercayai bahwa inilah kebenaran sejati, yang ternyata tidaklah sejati, karena dia akan terus berkembang, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dan satu sesi mata kuliah Etika Profesi & Spiritualitas yang sangat membekas dalam diri saya terkait dengan ini adalah di mana saya dan teman-teman sekelas ditunjukkan pada suatu gambar ayam jantan oleh Prof. Iwan, dosen pengampu mata kuliah Etika Profesi & Spiritualitas. Seluruh kelas lalu ditanyai oleh Beliau, gambar apakah yang sedang ditampilkan. Tentu dengan lugas seluruh kelas, termasuk saya, menjawab bahwa itu gambar ayam jantan. Kemudian, saya dan Miftah, salah satu teman sekelas saya disuruh keluar kelas sebentar, untuk kelanjutan sesi itu. Di tengah kebingungan akan apa yang terjadi, akhirnya saya dan Miftah keluar kelas, dan Prof. Iwan dan teman-teman sekelas lainnya melanjutkan pelajaran. Tak sampai 3 menit, saya dan Miftah dipanggil lagi oleh Beliau untuk masuk kelas. Saya dan Miftah lalu ditunjukkan gambar yang sebelumnya ditampilkan tadi, dan ditanyai sekali lagi, itu gambar apa oleh Beliau. Tentu dengan lugas, saya dan Miftah menjawab itu adalah gambar ayam jantan. Beliau tersenyum dan menanyakan kepada teman-teman sekelas lainnya, apakah benar jawaban saya, dan ternyata jawaban saya dan Miftah salah! Mereka menjawab itu adalah gambar orang yang sedang membaca majalah di kapal pesiar! Di tengah kebingungan saya dan Miftah akan jawaban teman-teman sekelas, Prof. Iwan lalu melanjutkan gambar tadi. Ternyata gambar ayam jantan tadi kemudian di zoom-out, dan tampaklah itu adalah gambar hewan jantan yang sedang mencari makan di pelataran, kemudian Beliau lanjutkan men-zoom-out gambar tadi, ternyata itu gambar kumpulan unggas yang mencari makan di tengah pelataran, kemudian di-zoom-out lagi ternyata itu dua anak kecil yang melihat unggas yang mencari makan, di-zoom-out lagi, dan tampaklah itu adalah gambar gedung peternakan dimana kedua anak kecil tadi melihat unggas mencari makan, di-zoom-out lagi, ternyata itu kompleks peternakan, kemudian di-zoom-out lagi, ternyata itu adalah gambar peternakan, terus, menerus hingga ternyata itu adalah gambar peternakan di majalah yang sedang dibaca oleh seseorang yang sedang berjemur di kapal pesiar!

Di tengah keterkejutan kami, Beliau lalu melanjutkan men-zoom-out lagi dan lagi gambar itu. Tampaklah itu adalah kapal pesiar, yang ternyata ada di lautan, dan ternyata gambar kapal pesiar tadi hanyalah gambar iklan di bis kota yang tengah berjalan dan seterusnya dan seterusnya. Akhirnya, Beliau menghentikan sejenak men-zoom-out gambar itu dan menanyakan ke kami pelajaran apa yang bisa diambil dari gambar tadi. Dengan segera, banyaklah telunjuk kami yang teracung, termasuk telunjuk saya, untuk mengungkapkan keterkejutan kami akan gambar tadi. Intinya, semua sama, bahwa apa yang kita pahami, memanglah kebenaran, tadi itu adalah bagian dari kebenaran yang lebih besar lainnya, dan lainnya lagi yang lebih besar, begitu seterusnya.

Intinya, bahwa kita harus mempercayai kebenaran ilmiah yang kita pahami saat ini, sebagai bekal kita melangkah, bekerja, mengambil keputusan dan lain sebagainya. Namun, kita tidak boleh menutup diri akan perubahan, adanya pemikiran lain, adanya interpretasi yang berbeda dan tidak menutup diri dengan bingkai objektivitas semu yang penuh akan kekurangan kita akibat dari kekurangan indera dan pengetahuan kita sebagai manusia.

Dan untuk menutup tulisan pada laporan perubahan diri di tingkat pikiran/akal ini, ada satu pelajaran yang saya rasa sangat beruntung bisa didapatkan di kampus ini, yaitu multiparadigma itu sendiri. Bahwa membuka diri, mencoba memahami sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, akan banyak membantu kita memaknai suatu kebenaran, untuk dapat mencapai kebenaran yang lebih tinggi, dalam mencari proses kebenaran sejati, kebenaran ilmiah yang sejati. Dan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan tidaklah bisa didapatkan dari pribadi yang merasa paling benar, tapi dari pribadi yang mau belajar, yang mendahulukan banyak membaca dan mendengar alam semesta.

Perubahan pada tingkat mental

Laporan perubahan diri pada tingkat mental ini akan saya mulai, dengan suatu kenyataan yang ‘gak masuk akal’. Maksudnya? Ya, maksudnya adalah bahwa bagaimana mental seseorang yang sudah ‘ditanami dan dipupuk’ dengan segala macam ‘obat, vitamin dan suplemen birokrasi’ selama sepuluh tahun masa kerjanya, bisa berubah hanya dalam hitungan bulan. Ya, kira-kira empat bulanan lebih tepatnya. Yang saya bicarakan di sini adalah mental amtenaar saya, mental birokrat saya, yang telah dipupuk dan ditanami oleh berbagai macam dogma dan konsep birokrasi, menjadi bias, lalu kemudian berubah semenjak menjadi mahasiswa Magister Akuntansi di Universitas Brawijaya melalui program beasiswa STAR BPKP. Tidak masuk akalnya adalah kok bisa, pelajaran dan lain sebagainya yang saya dapatkan di Universitas Brawijaya ini mengubah mentalitas birokrasi saya hanya dalam waktu empat bulan?

Semua bermula dari terbukanya pemikiran saya tentang konsep birokrasi. Selama ini, dalam sepuluh tahun karir saya di bidang pemerintahan, saya dicekoki berbagai macam aturan, dalam segala macam bentuknya, mulai Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri Dalam Negeri, Peraturan Daerah, Peraturan Kepala Daerah, Keputusan Kepala Daerah dan lain sebagainya yang mengajarkan 1 hal secara umum, bahwa kedisiplinan dan ketaatan pada aturan adalah segalanya. Ini juga termasuk taat pada (perintah) atasan. Loyalitas/ketaatan/kesetiaan adalah nomer satu, hal lainnya mengikuti, begitu kira-kira singkatnya. Hal ini bahkan bisa dilihat dari penilaian Pegawai Negeri selama ini, sebelum diganti Sasaran Kerja PNS (SKP), yaitu melalui format Daftar Penilian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3). Dalam DP3, unsur penilaian yang paling utama adalah Loyalitas, unsur nomor urut satu, yang nilainya harus di atas 90! Nilai ini tidak boleh berkurang sama sekali, bahkan harus naik saat si PNS tersebut naik golongan menjadi golongan IV. Yang menjadi lucu, tapi tidak menarik adalah bahwasanya penilaian PNS melalui DP3 itu malah menjadi penilaian kepribadian (personality) dan perilaku (behaviour), daripada kinerja, peningkatan hasil dan produktivitas (end result). Intinya, bahwa selama ini kinerja PNS itu dilihat dari taat nya yang bersangkutan pada aturan (dan atasan), bukan pada kinerjanya! Itu yang pada akhirnya membentuk mental birokrat saya (dan mungkin jutaan PNS lainnya di negeri ini), bahwasanya percuma menunjukkan kinerja terbaik, toh pada akhirnya kesetiaan lah yang menjadi penilaian utama. Tentu yang dimaksud di sini bukanlah kesetiaan buta, tanpa menghiraukan apapun, akan tetapi lebih pada skala prioritas. Ya, prioritas manut lebih dari pada yang lain. Mentalitas inilah yang juga ‘menyandera’ diri saya, untuk selalu bersikap follow the order first, think later. Mentalitas yang saya bawa, hingga akhirnya ngampus di kampus biru emas ini.

Dan tatkala saya mulai belajar di kampus ini, perlahan tapi pasti, pemikiran saya seakan dibuka oleh para dosen pengajar di sini. Bila boleh meminjam istilah Prof. Iwan Triyuwono, mata ketiga saya, mata se laen, dibuka dari kebutaan yang selama ini menutupi, bahwa ada, dan banyak hal lain yang perlu dipikirkan sebagai pertimbangan dalam bekerja. Loyalitas adalah tetap penting, tapi bukanlah yang paling penting, apalagi ‘maha’ penting. Di sana ada akal sehat, mata hati atau mata batin yang selalu jujur, tidak terkontaminasi pemikiran akal pikiran yang selalu mempertimbangkan untung dan ruginya pada diri sendiri bila akan mengambil suatu keputusan dan kebijakan.

Karena setiap manusia pada dasarnya baik, namun menjadi berbeda dalam segala tindak tanduknya, karena pengaruh akal pikirannya yang sangat tergantung pada banyak hal di sekelilingnya. Saya mempercayai bahwa semua manusia itu putih, suci, seperti saat dia lahir ke dunia ini, namun seiring dalam pertumbuhan dan perkembangannya, dia bisa menjadi individu yang berbeda-beda, tergantung pada pengaruh sekelilingnya, baik itu manusia, alam sekitarnya dan perubahan zaman.

Kembali pada diri saya, perubahaan mental inilah yang saya dapatkan di Universitas Brawijaya, yang menyadarkan diri saya bahwa birokrasi itu luas, tidak sekedar taat pada aturan dan atasan. Tentu, bukan lalu sifat membangkang yang saya dapt di sini, namun lebih pada sifat kritis membangun terhadap segala aturan dan perintah yang saya dapatkan. Yang dimaksud di sini adalah lebih peka terhadap kenyataan dan menyisihkan kepentingan dan (mungkin) ‘keselamatan’ pribadi atas segala aturan dan perintah. Mentalitas dimana saya tidak lagi berpikir “untungnya buat saya apa”, atau “ gak usah aneh-aneh, yang penting selamat dan aman”, atau bisa juga “namanya juga perintah, yang penting kita jalani, kan yang bertanggungjawab si boss, kita kan cuman bawahan”. Mentalitas inilah yang selama ini membuat PNS sering terjebak dalam ‘zona nyaman’, yang membuat tuduhan bahwa PNS miskin kreativitas, gagap akan tantangan perubahan dan bekerja berdasarkan ABS (Asal Bapak Senang) bukanlah isapan jempol belaka.

Sebagai penutup tulisan pada laporan perubahan diri di tingkat mental ini, saya merasa sangat bersyukur bisa mendapatkan kesempatan belajar di Universitas Brawijaya, sehingga saya dapat berkenalan dengan banyak ilmu baru dan utamanya perubahan mental birokrat saya sehingga saya dapat lebih bisa memahami arti menjadi abdi negara, bukan sekedar pegawai pemerintah. Mungkin inilah yang dirasakan oleh Presiden RI ketujuh, yaitu Presiden RI saat laporan perubahan ini ditulis, yaitu Presiden Joko Widodo yang menggaungkan Revolusi Mental saat Beliau berkampanye dahulu. Terlepas kontroversi pelaksanaannya, memang revolusi mental-lah yang dibutuhkan oleh banyak aparat negara untuk bisa menterjemahkan tugas, pokok dan fungsinya, memahami makna tersirat yang tidak tersurat dan bekerja dengan hatinya dalam menjalankan fungsi pemerintahan, demi menuju Indonesia yang lebih baik. Rasa ketidaktakutan akan kehilangan jabatan beserta seluruh fasilitas dan kemudahannya, sifat bertanggungjawab dan tidak menyalahkan orang lain, tidak anti-kritik, serta selalu mau belajar dari siapapun adalah mentalitas yang harus dimiliki oleh aparat negara. Dan itu berawal dari satu hal kecil, menghilangkan mental pembebek, yang selalu manut kemanapun dia diarahkan, tanpa peduli itu benar atau salah.

Perubahan pada tingkat spiritual

Laporan perubahan diri pada tingkat spiritual ini adalah laporan yang paling sulit menurut saya, karena sebelum saya mulai mengerjakan tugas ini, saya berpikir dalam hati, “Pantaskah hubungan saya, sebagai makhluk ciptaan-Nya, dengan sang Khalik, Tuhan semesta alam ini saya umbar hanya untuk mendapatkan nilai UAS yang bagus?” Lalu kemudian berlanjut pada pemikiran, “Jadi saya harus menuliskan bahwasanya saya tambah alim, saya menjadi lebih dekat dengan ALLAH SWT dan segala yang baik untuk menunjukkan bahwa ada perubahan signifikan dalam tingkat spiritual di dalam diri saya hanya untuk kepentingan nilai UAS?”

Istighfar. Ya, tentu sangat naif sekali bila saya lalu terjebak dalam kepentingan untung-rugi bila itu berkaitan dengan masalah keyakinan, dalam bahasan ketakwaan pada ALLAH SWT, Tuhan semesta alam. Rasanya sama dengan riya’, seperti ujub bila harus menuliskan dalam laporan perubahan diri di tingkat spiritual ini. Jadi, selanjutnya saya tidak akan membahas tentang apa yang terjadi pada diri saya tentang ini, namun saya hanya menyatakan penghargaan dan terima kasih sebanyak-banyaknya atas kesempatan belajar yang diberikan, yang memberikan wawasan lebih pada perkembangan diri saya pribadi, tentu termasuk dalam bahasan di tingkat spiritual ini.

Namun, itu tentu saja tidak mengurangi esensi pentingnya penulisan laporan perubahan diri di tingkat spiritual ini, karena sekali lagi, mengerjakan tugas adalah bagian dari tanggung jawab saya sebagai seorang mahasiswa, yang sedang menimba ilmu di Universitas Brawijaya ini.

Jadi, yang dapat saya laporkan di sini adalah bahwa model pembelajaran yang menekankan pada aspek ketuhanan sangat penting sekali untuk dipertahankan, dan diajarkan serta diintegrasikan secara menyeluruh dalam seluruh pembelajaran di semua tingkat dan jurusan. Ini sangat berguna agar mahasiswa yang menerima ilmu yang diajarkan, dapat memahaminya secara utuh, tidaklagi memisahkan antara mana yang merupakan kajian ilmiah keduniawian, mana yang merupakan kajian tentang ketuhanan. Karena saat ini, masalah agama dan ketakwaan pada Tuhan pencipta alam sering dibedakan, sehingga menciptakan ilmu pengetahuan yang atheis, yang mengaburkan, bahkan menghilangkan sama sekali aspek ketuhanan dalam pengajaran ilmu pengetahuan tersebut.

Inilah yang kemudian berpotensi menciptakan manusia beragama yang atheis dalam keduniawian, yang memisahkan mana urusan dunia, dan mana urusan akhirat. Kenyataan pada saat ini sangat jelas menggambarkan bahwa ternyata urusan dunia yang dijalankan terpisah dari konsep ketuhanan, cenderung untuk korup dan menciptakan pribadi yang korup, hasil yang korup dan kelanjutan yang lebih korup.

Saya percaya bahwa ini adalah sebuah keniscayaan , bila manusia meniadakan ketakwaannya pada Tuhan semesta alam dalam kegiatan dunia kesehariannya, maka tindakannya akan lebih dekat pada nafsu manusia yang tak terbatas serta akal pikirannya yang penuh akan kekurangan dan kealpaan. Semoga ke depan, model pembelajaran spiritualis menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam dunia pendidikan kita. Aamiin, Aamiin Yaa Robbal Alaamiin.